KISAH PERJUANGAN RADIO PHB PC2 PERHUBUNGAN AURI

image

 

( 26/05/2020 )

Setelah terjadi Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948 yang juga menangkap dan menahan pimpinan pemerintah Indonesia, yang menyebabkan presiden memberi mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk menjalankan pemerintahan darurat Indonesia di Bukittinggi dan Tentara Indonesia di bawah Panglima Besar Jenderal Sudirman untuk tetap melanjutkan perjuangannya mempertahankan kemerdekaan dan melakukan berbagai perlawanan pendudukan Belanda, sejalan dengan pesan Mohammad Hatta, Wakil Presiden yang sempat mengirim pesan radio ke semua wilayah melalui stasiun radio perhubungan Angkatan Udara Indonesia (PHB-AURI) untuk terus melanjutkan perjuangan tanpa mempedulikan apapun yang akan terjadi pada pemimpin Indonesia.


Ternyata, tindakan agresi militer Belanda ke ibukota Indonesia di Yogyakarta tersebut telah diantisipasi oleh pimpinan Angkatan Udara Indonesia sehingga dengan segera dapat memindahkan markas dan beberapa peralatan penting ke luar Jogja, termasuk perangkat komunikasi radio yang telah dipindah ke Landasan Udara Gading di Gunungkidul sehingga bisa tetap mengadakan hubungan dengan beberapa wilayah di Jawa dan Sumatera bahkan hingga Burma dan India, dimana markas Angkatan Udara Indonesia di daerah Terban Taman dibumihanguskan dan Playen di Gunungkidul disiapkan menjadi stasiun komunikasi apabila Yogyakarta diduduki Belanda.


Untuk menjaga keamanan perangkat komunikasi PHB PC-2 tersebut diputuskan untuk dipindah dari Landasan Udara Gading ke Dukuh Banaran di Playen, Gunungkidul setelah mendapat izin dari keluarga Pawirosetomo pemilik rumah yang digunakan sebagai markas stasiun PHB PC-2. Dibantu oleh personil dari Landasan Udara Gading, perangkat komunikasi tersebut segera dipasang dimana antena direntangkan pada pohon kelapa, yang setiap malam dipasang dan setiap pagi diturunkan dan disembunyikan, sedangkan generator lsitrik disembunyikan di bawah tanah, tepatnya di bawah luweng atau perapian untuk memasak nasi, sehingga secara sekilas tidak terlihat mencurigakan, untuk menghindari penangkapan Tentara Belanda.


Stasiun Radio dengan call-sign atau kode PC-2 selanjutnya dioperasikan untuk memancarkan berita yang menangkal berita bohong dari pihak Belanda yang mengatakan bahwa Indonesia dan Tentaranya telah hancur serta untuk menjalin komunikasi dengan lebih dari 20 stasiun perhubungan Angkatan Udara (PHB-AURI) lain di Indonesia, antara

lain di Kotaraja di Aceh, Tarutung, Bangkinang, Pasir Pangreyen, Kotatinggi, Kerinci, Lubuk Linggau, Bukit Tinggi di Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi di Sumatera, Pakanbaru di Riau, Tanjung Karang di Lampung, Jamus di Gunung Lawu di Jawa Tengah, Madiun di Jawa Timur dan sebagainya , yang masih dapat menyelamatkan diri, termasuk menggunakan stasiun mobile atau bergerak yang mengikuti untuk menjalin komunikasi dengan Pemerintahan Darurat Indonesia hingga dengan satuan AURI di luar negeri (Burma dan India) melalui stasiun PHB Kutaraja di Aceh.
Untuk menjaga keamanannya, PC-2 PHB Playen hanya beroperasi pada malam hari dengan mengacak frekuensi yang digunakan, mengubah kode, memindah jam siaran hingga berpindah tempat, bahkan personilnya juga mengganti identitas mereka dengan nama samaran.
Pada tanggal 28 Februari 1949, Kolonel TB Simatupang, Kepala Staf Angkatan Perang TNI memberi perintah untuk menyiarkan terjadinya serangan umum yang akan dilancarkan pada waktu subuh tanggal 1 Maret 1949 dan pada tanggal 2 Maret 1949 malam, PHB PC-2 melaksanakan tugasnya dengan menyiarkan terjadinya serangan tersebut bahwa pada tanggal 1 Maret, Yogyakarta diduduki kembali oleh TNI melalui  PHB Takengon (Aceh) yang langsung dilanjutkan ke PHB Rangoon (Burma).
Pada sore hari tanggal 2 Maret 1949, berita “Yogyakarta diduduki kembali oleh TNI” sudah disiarkan oleh Radio All India Radio di New Delhi ke keluruh penjuru dunia hingga sampai ke PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) yang membuka kebohongan Belanda bahwa TNI merupakan gerombolan pengacau dan Republik Indonesia sudah tidak ada lagi.
Hal tersebut mengakibatkan Tentara Pendudukan Belanda di Jogja menyerang ke Wonosari, namun gagal karena Peralatan Radio PC-2 telah dipindah untuk diungsikan dan disembunyikan ke daerah Brosot di Wates oleh Opsir Udara III Boediardjo, Kepala Jawatan PHB AURI dan pasukannya.
Saat ini di Banaran, Playen, Gunung Kidul, lokasi tempat Perangkat Radio PHB PC-2 pernah berada dan menjadi pendukung kemerdekaan Indonesia telah dibangun Monumen Stasiun Radio AURI PC2 pada tahun 1984 dan rencananya akan dibangun sebagai salah satu wisata sejarah di Gunungkidul.

Mon, 30 Aug 2021 @16:16


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Cek Nama Domainf

Cek Nama Domain ?

selamat datang di website kami.
image

BUKU SERIAL TOKOH & PAHLAWAN NASIONAL

Telp: (sms/WA only)


Penerbitan SWARA RESI AktaNotaris 37/Kumham 24/3/2000 Rekening:BRI No: 053801052152509 an. Ferdinand H LTobing : Jl.Apel 1 Depok. Koord. Forum Putra Veteran Pejuang Kemerdekaan RI (PKRI) Ketua Yayasan Glori .Email: redaksi@swararesi.com
Copyright © 2021 swararesi.com · All Rights Reserved