MEDIAWATCH DIRGANTARA HUMAN CAPITAL-ASN Watch

Berita Foto : Seminar Polemik Harga Tiket Pesawat dalam Perspektif Hukum, Bisnis dan Investasi

image

Berita Foto : Polemik Harga Tiket Pesawat dalam Perspektif Hukum, Bisnis dan Investasi

Melonjaknya harga tiket pesawat tepat mendekati lebaran Idul Fitri lalu membuat publik ‘terngaga’. Bahkan untuk beberapa bagasi maskapai golongan low cost carrier (LCC) yang sebelumnya tak berbayar berubah menjadi berbayar.

 

Alhasil, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berupaya memperbaiki harga dengan menetapkan tarif batas atas (TBA) maupun tarif batas bawah (TBB) melalui Kepmenhub No. 106 Tahun 2019 tentang TBA Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Niaga Berjadwal Dalam Negeri, kendati dalam aspek persaingan usaha mekanisme harga harusnya diserahkan pada mekanisme pasar.

 

Pada tahapan berikutnya, skema lain digunakan pemerintah sebagai upaya menurunkan harga tiket, yakni melalui pemberian diskon harga khusus untuk penerbangan domestik dengan jadwal tertentu (low season) sebesar 50% dari TBA. Sayangnya, harga tiket tak kunjung pulih.

 

“Diharapkan kita bisa cari solusi, setiap minggu selalu kita rapatkan, kita cari apa yang bisa kita benahi,” ungkap Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam seminar bertajuk Polemik Harga Tiket Pesawat dalam Perspektif Hukum, Bisnis dan Investasi, yang diselenggarakan Perhimpunan Advokat Indonesia Dewan Pimpinan Cabang Jakarta Pusat, Jumat (9/8).

 

Dalam konteks pelayanan, Ia menyebut Kemenhub berdasarkan UU Penerbangan mempunyai fungsi regulasi untuk mengatur beberapa hal demi melindungi kepentingan masyarakat. Untuk itu penetapan TBA dan TBB adalah solusi Kemenhub dalam menjalankan fungsi regulasi, walaupun hasilnya tak maksimal setidaknya ada perubahan. Ia berharap melalui TBA dan TBB itu akan ada ekuilibrium baru tarif penerbangan yang berimbang bagi maskapai maupun penumpang.

 

Sebaliknya, penasehat Kebijakan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Lin Che Wei, justru mengkategorikan era murahnya harga tiket pesawat LCC masa lalu sebagai harga yang predatory, sedangkan tingginya harga tiket pesawat saat ini disebutnya merupakan harga normal.

 

Terbukti, sebelum era predatory itu hanya 16 juta dari 200 jutaan rakyat Indonesia yang naik pesawat. Ketika semua maskapai berkompetisi menjatuhkan harga akhirnya angka penumpang pesawat Indonesia melonjak hingga 80 persen.

 

Padahal harga murah yang ketika itu berlaku, katanya, tak bisa dipertemukan antara variable cost dengan fixed cost-nya. Berkat harga yang begitu murah, akhirnya banyak perusahaan penerbangan merugi. Garuda Indonesia misalnya, yang sudah tiga tahun merugi akibat persaingan harga yang begitu predatory.

 

“Cuma waktu itu KPPU enggak pernah ribut. Semua konsumen menikmati harga murah sekali, sementara maskapai banyak yang merugi,” ujarnya, dalam Seminar bertajuk Polemik Harga Tiket Pesawat dalam Perspektif Hukum, Bisnis dan Investasi, yang diselenggarakn Perhimpunan Advokat Indonesia Dewan Pimpinan Cabang Jakarta Pusat yang didukung Hukumonline, Jumat (9/8).

Tue, 20 Aug 2019 @20:43


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 swararesi.com · All Rights Reserved