MEDIAWATCH DIRGANTARA HUMAN CAPITAL-ASN Watch

Eurasian Economic Community (EAEU) Sebagai Pasar Prospektif Produk Unggulan Indonesia

image

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa (Pusat P2K2 Amerop) – Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Kementerian Luar Negeri bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Udayana, telah menyelenggarakan kegiatan Seminar Internasional dengan tema "Eurasian Economic Union: Challenges and Opportunities for Indonesia" bertempat di Ruang Nusantara, Universitas Udayana, Bali, tanggal 19 Mei 2017.

Kegiatan Seminar Internasional ini dihadiri oleh lebih dari 100 orang peserta yang terdiri dari wakil pejabat perwakilan diplomatik asing anggota Eurasian Economic Union (EAEU), wakil pejabat pemerintahan, pelaku bisnis, dan kalangan akademisi.

Pelaksanaan Kegiatan Seminar Internasional dilatarbelakangi upaya Indonesia untuk  meningkatkan volume perdagangan dan kualitas perdagangan Indonesia melalui diplomasi ekonomi yang dilakukan dengan dua hal, yaitu pertama, pendalaman kerjasama perdagangan dan ekonomi dengan pasar tradisional Indonesia; kedua, mengupayakan pembukaan pasar baru bagi produk-produk Indonesia di negara-negara pasar prospektif. Pembukaan pasar baru di berbagai kawasan salah satunya dilakukan melalui penjajakan keikutsertaan Indonesia pada berbagai kesepakatan perdagangan bilateral, regional, maupun lintas benua (Cross Regional Trade Agreement), seperti penawaran Rusia untuk membentuk kerjasama perdagangan bebas antara ASEAN dan Eurasian Economic Union (EAEU).

Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Seminar Internasional ini adalah pembicara dari Indonesia dan Rusia. Narasumber dari Indonesia terdiri dari Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Dr. Siswo Pramono, LL.M., Kepala Pusat Kerja Sama Perdagangan Kementerian Perdagangan, Ir. Sri Nastiti Budianti, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Pierre Togar Sitanggang, Peneliti Senior pada Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI. Sementara itu, pembicara dari pihak Rusia , terdiri dari Aide to the Member of Eurasian Economic Union Commission Board for Integration and Macroeconomics, Mr. Fyodor Chernitsyn, dan Deputy Director of the First CIS Department Kemlu Federasi Rusia. Bertindak sebagai moderator adalah Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan Amerika dan Eropa, Kemlu RI, Leonard F. Hutabarat, Ph.D.  

Dari paparan para narasumber diperoleh sejumlah informasi bahwa EAEU merupakan bentuk integrasi kerjasama ekonomi di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah yang merupakan negara-negara pecahan Uni Soviet (Belarusia, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Armenia) dengan Rusia sebagai motor utamanya, mulai berlaku secara resmi sejak tahun 2015.  Meskipun EAEU merupakan integrasi ekonomi berbentuk Economic Union - sama halnya dengan Uni Eropa, EAEU tidak akan menerapkan kebijakan penggunaan mata uang bersama. Hal ini dikarenakan perbedaan kondisi ekonomi dan keuangan yang cukup besar antara negara-negara anggota EAEU. 

Isu lainnya yang mengemuka dalam seminar tersebut adalah meskipun saat ini perdagangan Indonesia dengan EAEU mengalami defisit, namun kerjasama ekonomi antara Indonesia dan negara-negara EAEU tetap menjanjikan. Hal ini mengingat produk-produk kedua negara memiliki tingkat komplementari yang cukup besar. Indonesia perlu secara cermat memetakan produk-produk unggulannya untuk diperdagangkan dengan negara-negara EAEU, sehingga dapat mengejar nilai defisit perdagangannya.  Menyadari potensi ekonomi EAEU yang besar, Indonesia dapat memanfaatkan adanya bentuk kerjasama yang paling dasar dengan EAEU, yaitu melalui nota kesepahaman kerjasama (MoU) antar kedua negara, melalui pembentukan working groups, untuk menegosiasikan pembebesan tarif bagi produk barang dan jasa kedua negara dan hal-hal lainnya, sebelum akhirnya Indonesia memutuskan untuk membentuk integrasi kerjasama ekonomi dalam bentuk kawasan perdagangan bebas (FTA) atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), atau bentuk lainnya.

Rusia merupakan 80% penyumbang GDP bagi EAEU, sehingga peningkatan kerjasama dengan Rusia merupakan hal yang mutlak dilakukan.  Salah satu produk unggulan Indonesia yang sangat potensial untuk pasar EAEU adalah minyak kelapa sawit (palm oil). Kampanye negatif terhadap palm oil yang dilakukan oleh Uni Eropa (EU), harus dapat dipatahkan oleh Indonesia, sehingga produk unggulan Indonesia tersebut dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. Nilai ekspor miyak kelapa sawit Indonesia ke Rusia mencapai total nilai sebesar US$ 480 juta pada tahun 2015.   

Pada akhir sesi diskusi Seminar, ditekankan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh EAEU, sebagai pasar prospektif bagi produk-produk unggulan Indonesia, terlebih karena negara-negara anggota ASEAN lainnya seperti Vietnam, Singapura, Malaysia, sudah terelbih dahulu melakukanengagement dengan EAEU . Salah satu tantangan nyata yang dihadapi Indonesia dalam melakukan kerja sama ekonomi dengan EAEU adalah konektivitas.  Pelabuhan di Rusia menjadi andalan Indonesia untuk memasukkan barang di EAEU. Namun demikian, Indonesia dan EAEU dapat memanfaatkan adanya proyek mega Pemerintah RRT untuk meningkatkan kerjasama ekonomi bagi negara-negara yang berada di jalur sutra (One Belt One Road) melalui pembangunan infrastruktur, sehingga biaya pengiriman menjadi dapat ditekan.

Sun, 11 Jun 2017 @07:43


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2018 swararesi.com · All Rights Reserved